-
Recents Post
- Praktik Lapang Mahasiswa PS Agroteknologi STIPER Amuntai ke PT BSKP Tanah Laut 30/04/2026
- Karakteristik Umum Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 15/03/2026
- ADAKSI Audiensi dengan Menkeu Purbaya: Tegaskan Utang Tukin Dosen, Kacau-Balau Keuangan PTN, dan Stagnansi Tunjangan Fungsional 18 Tahun 21/11/2025
- Lokakarya Kurikulum STIPER Amuntai Tahun 2025 04/06/2025
- 1 Tim P2MW STIPER Amuntai Ikuti Expo KMI XV Di UHO Kendari 26/10/2024
Recent Comments
Translate
Visitors & Stats
Locations
Meta
Pestisida Nabati Dari Bawang putih (Allium sativum L.)
Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu: (1) merusak perkembangan telur, larva dan pupa. (2) menghambat pergantian kulit. (3) mengganggu komunikasi serangga. (4) menyebabkan serangga menolak makan. (5) menghambat reproduksi serangga betina. (6) mengurangi nafsu makan. (7) memblokir kemampuan makan serangga. (8) mengusir serangga. (9) menghambat perkembangan patogen penyakit.
Pestisida nabati mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan. Keunggulan pestisida nabati adalah: (1) murah dan mudah dibuat sendiri oleh petani. (2) relatif aman terhadap lingkungan. (3) tidak menyebabkan keracunan pada tanaman. (4) sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama. (5) kompatibel digabung dengan cara pengendalian yang lain. (6) menghasilkan produk pertanian yang sehat karena bebas residu pestisida kimia. Continue reading
Peran Mekanisasi Pertanian di Indonesia
Sesuai dengan defenisi dari mekanisasi pertanian (agriculture mechanization), maka penggunaan alat mekanisasi pertanian adalah untuk meningkatkan daya kerja manusia dalam proses produksi pertanian dan dalam setiap tahapan dari proses produksi tersebut selalu memerlukan alat mesin pertanian (Sukirno, 1999). 
Setiap perubahan usaha tani melalui mekanisasi didasari tujuan tertentu yang membuat perubahan tersebut bisa dimengerti, logis, dan dapat diterima. Diharapkan perubahan suatu sistem akan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Secara umum, tujuan mekanisasi pertanian adalah : Continue reading
Cara Membuat Pupuk Organik Cair
Terdapat dua macam tipe pupuk organik cair yang dibuat melalui proses pengomposan. Pertama adalah pupuk organik cair yang dibuat dengan cara melarutkan pupuk organik yang telah jadi atau setengah jadi ke dalam air. Jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya. Pupuk organik cair semacam ini karakteristiknya tidak jauh beda dengan pupuk organik padat, hanya saja wujudnya berupa cairan. Dalam bahasa lebih mudah, kira-kira seperti teh yang dicelupkan ke dalam air lalu airnya dijadikan pupuk. Continue reading
Khasiat Kolang Kaling
Siapa yang tidak kenal kolang-kaling? Buah ini kerap menjadi bahan campuran es campur. Di balik bentuknya yang lonjong, berwarna putih bening dengan tekstur padat, lunak dan kenyal, ternyata kolang-kaling menyimpan khasiat kesehatan yang sangat besar.
Kolang-kaling adalah buah dari pohon aren. Penjualannya dijumpai di pasar tradisional dan modern. Masyarakat Sunda menyebut kolang-kaling dengan nama cangkaleng. Rasa dan baunya unik. Tekstur kenyal inilah yang paling disukai. Kolang-kaling kerap ditemui sebagai pelengkap es. Saat puasa, buah ini menjadi sajian buka utama. Continue reading
Kiat Sukses Penerapan Teknologi Padi
UPBS Mengefisienkan Distribusi Padi Rawa
Saat ini Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan 7 varietas INPARA. Varietas INPARA merupakan kepanjangan dari Inbrida Padi Rawa, varietas ini mampu beradaptasi di lahan rawa. Untuk mengefisiensikan penyebarannya ke seluruh Indonesia Balitbangtan telah membentuk Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). Continue reading
Produksi Jagung
Ada fakta yang lucu dan aneh ketika mencermati data tentang produksi jagung nasional. Kementerian Pertanian yang selalu menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim bahwa produksi jagung nasional tahun 2015 sebanyak 20 juta ton.
Namun angka tersebut dipertanyakan oleh kalangan asosiasi peternak, industri pakan ternak dan mereka yang bergerak di bisnis jagung. Mereka menilai angka tersebut tidak tepat bahkan mungkin terlalu berlebihan. Fakta menunjukkan, jagung yang tersedia di pasar dan gudang tidak sebanyak itu. Continue reading
Tujuh Ciri Perguruan Tinggi Yang Sehat
1. Memiliki Jumlah Dosen yang memenuhi syarat dalam setiap program studi
Syarat Jumlah Dosen Minimal dalam satu prodi adalah 6 orang dosen. Jika dalam satu prodi saja jumlah dosen kurang cukup jumlah dosen maka program studi tersebut bisa diragukan dari kualitasnya. Karena Dikti baru-baru inipun sudah membuat Surat Edaran tanggal 23 Juni 2015 di Surat edaran tersebut bahkan ada kalimat penekanan sanksi untuk program studi tersebut.
Untuk mengetahui jumlah dosen dari setiap program studi maka kita bisa melihat dihalaman resmi dikti yang saat ini kita kenal forlapdikti.go.id disana akan ditemukan menu pencarian untuk profil perguruan tinggi.
Continue reading
Metode Pembelajaran Student Centered Learning (SCL)
- Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang terprogram dalam desain FEE (facilitating, empowering, enabling), untuk membuat mahasiswa belajar secara aktif, yang menekankan pada sumber belajar.
- Pembelajaran merupakan proses pengembangan kreativitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir mahasiswa, serta dapat meningkatkan dan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan dan pengembangan yang baik terhadap materi perkuliahan.
- Student Centered Learning (SCL) adalah pembelajaran yang berpusat pada aktivitas belajar mahasiswa, bukan hanya pada aktivitas dosen mengajar.
- Situasi pembelajaran dalam SCL di antaranya bercirikan :
PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)
PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) merupakan campuran yang mengandung bakteri Pseudomonas
fluorescens dan Bacillus ploymixa yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman yang mengkolonisasi perakaran dengan cara kerja berikut ini.
- Menekan perkembangan penyakit (bioprotektan) yang menular melalui tanah seperti layu fusarium, layu bakteri, phytophthora, rizoctonia, dan sclerotium. Selain itu, juga dapat mencegah penyakit yang menyerang daun dan buah seperti pustule bakteri, hawar daun, antraknose, bercak daun, dan karat daun.
- Memproduksi fitohormon (biostimulant) seperti IAA (Indole Acetic Acid), sitokinin, giberelin, dan penghambat produksi etilen.
- Meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman (biofertilizer) dengan cara meningkatkan penyerapan/pengambilan unsur N, Fe, S, dan Mn.
- Meningkatkan jumlah perakaran halus, luas permukaan akar bertambah, kemampuan penyerapan nutrisi dan air meningkat. Kebugaran tanaman bertambah sehingga lebih tahan terhadap gangguan hama dan patogen atau mampu mengkompensasi kerusakan.
