Metode Pembelajaran Student Centered Learning (SCL)

 

  • Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang terprogram dalam desain FEE (facilitating, empowering, enabling), untuk membuat mahasiswa belajar secara aktif, yang menekankan pada sumber belajar.
  • Pembelajaran merupakan proses pengembangan kreativitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir mahasiswa, serta dapat meningkatkan dan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan dan pengembangan yang baik terhadap materi perkuliahan.
  • Student Centered Learning (SCL) adalah pembelajaran yang berpusat pada aktivitas belajar mahasiswa, bukan hanya pada aktivitas dosen mengajar.
  • Situasi pembelajaran dalam SCL di antaranya bercirikan :

  1. Mahasiswa belajar baik secara individu maupun berkelompok untuk membangun pengetahuan, dengan cara mencari dan menggali sendiri informasi dan teknologi yang dibutunkannya secara aktif daripada sekedar menjadi penerima pengetahuan secara pasif.
  2. Dosen lebih berperan sebagai FEE dan guides on the sides daripada sebagai mentor in the center, yaitu membantu mahasiswa mengakses informasi, menata dan mentransfernya guna menemukan solusi terhadap permasalahan nyata sehari-hari, daripada sekedar sebagai gatekeeper of information.
  3. Mahasiswa tidak sekedar kompeten dalam bidang ilmunya, tetapi juga kompeten dalam belajar. Artinya, mahasiswa tidak hanya menguasai isi mata kuliahnya tetapi mereka juga belajar tentang bagaimana belajar (learn how to learn), melalui discovery, inquiry, dan problem solving, serta terjadi pengembangan.
  4. Belajar menjadi kegiatan komunitas yang difasilitasi oleh dosen, yang mampu mengelola pembelajarannya menjadi berorientasi pada mahasiswa.
  5. Belajar lebih dimaknai sebagai belajar sepanjang hayat (learnmg throughout of life), suatu keterampilan yang dibutuhkm dalam dunia kerja.
  6. Belajar termasuk memanfaatkan teknologi yang tersedia, baik berfungsi sebagai sumber informasi pembelajaran maupun sebagai alat untuk memberdayakan mahasiswa dalam mencapai keterampilan utuh (intelektual, emosional, dan psikomotor) yang dibutuhkan.
  • Pendekatan pembelajaran SCL diperlukan karena antara lain ;
  1. Untuk mengantisipasi dan mengakomodasi perubahan dalam bidang sosial, politik, ekonomi, teknologi dan lingkungan, yang menyebabkan informasi dalam buku teks dan artikel-artikel yang ditulis CEPAT kadaluarsa.
  2. Di masa mendatang, dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang;
    • Berpendidikan baik,
    • Mampu bekerjasama dalam tim,
    • Mampu memecahkan masalah secara efektif,
    • Mampu memproses dan memanfaatkan informasi,
    • Mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pasar global dalam rangka meningkatkan produktivitas.

 

 

  1. Oleh sebab itu, proses pembelajaran harus difokuskan pada;
    • Pemberdayaan dan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam berbagai aspek IPTEK dan seni.
    • Mahasiswa sebagai subyek pembelajaran, yang perlu diarahkan untuk belajar secara aktif membangun pengetahuan dan keterampilannya dengan cara bekerjasama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait.
  • Aspek-aspek yang perlu diperhatikan agar pembelajaran menjadi aktif, kreatif, dinamis, dialogis dan efektif pada pendekatan pembelajaran SCL yaitu :
  1. Memahami tujuan dan fungsi belajar, di mana seorang dosen perlu memahami konsep-konsep mendasar dan cara belajar sesuai dengan pengalaman mahasiswa serta memusatkan pembelajaran pada mahasiswa.
  2. Mengenal mahasiswa sebagai individu beserta perbedaan kemampuannya untuk menentukan berbagai metode dan strategi untuk mendorong kreativitas.
  3. Menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang serta memanfaatkan organisasi kelas agar mahasiswa dapat saling membantu dalam melakukan tugas belajar tertentu.
  4. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan berfikir kritis dan pemecahan masalah.
  5. Memberikan lingkungan sebagai sumber belajar serta memberikan muatan nilai, etika, estetika dan logika.
  6. Memberikan umpan balik yang baik untuk mendorong kegiatan belajar.
  7. Menyediakan pengalaman belajar yang beragam.

Perbedaan metode pembelajaran TC dan SCL

No. Teacher Centered (TC) Student Centered Learning (SCL)
1. Pengetahuan ditransfer dari dosen ke mahasiswa. Mahasiswa secara aktif mengem-bangkan pengetahuan dan keteram-pilan yang dipelajarinya.
2. Mahasiswa menerima pengetahu-an secara pasif. Mahasiswa secara aktif terlibat di dalam mengelola pengetahuan
3. Lebih menekankan pada pengua-saan materi. Tidak hanya menekankan pada penguasaan materi tetapi juga dalam mengembangkan karakter mahasiswa (Life-long learning).
4. Biasanya memanfaatkan media tunggal. Memanfaatkan banyak media (multi-media)
5. Fungsi dosen atau pengajar sebagai pemberi informasi utama dan evaluator. Fungsi dosen sebagai fasilitator dan evaluasi dilakukan bersama dengan mahasiswa.
6. Proses pembelajaran dan penilai-an dilakukan secara terpisah. Proses pembelajaran dan penilaian dilakukan saling berkesinambungan dan terintegrasi.
7. Menekankan pada jawaban yang benar saja Penekanan pada proses pengembang-an pengetahuan.Kesalahan dinilai menjadi salah satu sumber belajar.
8. Sesuai untuk mengembangkan ilmu dalam satu disiplin saja. Sesuai untuk pengembangan ilmu dengan cara pendekatan interdisipliner.
9. Iklim belajar lebih individualis dan kompetitif Iklim yang dikembangkan lebih bersifat kolaboratif, suportif dan kooperatif.
10. Hanya mahasiswa yang dianggap melakukan proses pembelajaran. Mahasiswa dan dosen belajar ber-sama di dalam mengembangkan pe-ngetahuan, konsep dan keterampilan.
11. Perkuliahan merupakan bagian terbesar dalam proses pembelajar-an. Mahasiswa dapat belajar tidak hanya dari perkuliahan saja tetapi dapat menggunakan berbagai cara dan kegiatan.
12. Penekanan pada tuntasnya materi pembelajaran. Penekanan pada pencapaian kompe-tensi peserta didik dan bukan tuntasnya materi.
13. Penekanan pada bagaimana cara dosen melakukan pembelajaran. Penekanan pada bagaimana cara mahasiswa dapat belajar dengan menggunakan berbagai bahan pelajaran, metode interdisipliner, penekanan pada problem based learning dan skill competency.

Beberapa metode pembelajaran yang diklasifikasikan sebagai pendekatan pembelajaran yang berpusat pada aktivitas belajar mahasiswa (Student Centered Learning /SCL)

  1. Small Group Discussion à diskusi merupakan salah elemen belajar secara aktif dan merupakan bagian dari banyak model pembelajaran SCL.
    • Mahasiswa peserta kuliah diminta membuat kelompok kecil (5 – 10 orang) untuk mendiskusikan bahan yang diberikan oleh dosen atau bahan yang diperoleh sendiri oleh anggota kelompok tersebut.
    • Dengan aktivitas kelompok kecil, mahasiswa akan belajar :
      1. Menjadi pendengar yang baik.
      2. Bekerjasama untuk tugas bersama.
      3. Memberikan dan menerima umpan balik yang konstruktif.
      4. Menghormati perbedaan pendapat.
      5. Mendukung pendapat dengan bukti.
      6. Menghayati sudut pandang yang bervariasi (gender, budaya, dll.)
    • Aktivitas diskusi kelompok kecil dapat berupa :
      1. Membangkitkan ide.
      2. Menyimpulkan poin penting.
      3. Mengakses tingkat skill dan pengetahuan.
      4. Mengkaji kembali topik di kelas sebelumnya.
      5. Menelaah latihan, quiz, tugas menulis.
      6. Memproses outcome pembelajaran pada akhir kelas.
      7. Memberi komentar tentang jalannya kelas.
      8. Membandingkan teori, isu dan interpretasi.
      9. Menyelesaikan masalah.
      10. Brainstorming.
  1. Role Pay & Simulation à model yang membawa situasi yang MIRIP dengan sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya untuk matakuliah Manajemen Perbankan, mahasiswa diminta membuat Bank fiktif dan melakukan aktivitas sebagaimana yang dilakukan bank sesungguhnya dalam memberikan jasa pelayanan kepada kliennya, misalnya : melakukan proses kliring, transfer payment, dsb.
    • Simulasi dapat berbentuk :
      1. Permainan peran (Role Pay) à dalam contoh di atas setiap mahasiswa dapat diberi peran masing-masing, misalnya ; sebagai direktur, analis kredit, kasir, dll.
      2. Model komputer.
    • Simulasi dapat mengubah cara pandang (mindset) mahasiswa, dengan jalan :
      1. Mempraktekkan kemampuan umum (misal ; komunikasi verbal & non-verbal).
      2. Mempraktekkan kemampuan khusus.
      3. Mempraktekkan kemampuan tim.
      4. Mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving).
      5. Menggunakan kemampuan sintesis.
      6. Mengembangkan kemampuan empati.
  1. Discovery Learning (DL) à adalah metode belajar yang difokuskan pada pemanfaatan informasi yang tersedia, baik yang diberikan dosen maupun yang dicari sendiri oleh mahasiswa, untuk membangun pengetahuan dengan cara belajar mandiri.
  1. Self Directed Learning (SDL) à adalah proses belajar yang dilakukan atas inisiatif individu mahasiswa sendiri.
    • Dalam hal ini, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan.
    • Sementara dosen hanya bertindak sebagai fasilitator, yang memberi arahan, bimbingan dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yang telah dilakukan individu mahasiswa tersebut.
    • Metode belajar ini bermanfaat untuk menyadarkan dan memberdayakan mahasiswa, bahwa belajar adalah tanggungjawab mereka sendiri. Dengan kata lain, individu mahasiswa didorong untuk bertanggungjawab terhadap semua fikiran dan tindakan yang dilakukannya.
    • Metode pembelajaran SDL dapat diterapkan apabila asumsi berikut ini telah dipenuhi.
  • Sebagai orang DEWASA, kemampuan mahasiswa semestinya bergeser dari orang yang tergantung pada orang lain menjadi individu yang mampu belajar mandiri.
    1. Pengalaman merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat.
    2. Kesiapan belajar merupakan tahap awal menjadi pembelajar mandiri.
    3. Orang dewasa lebih tertarik belajar dari permasalahan dari pada isi matakuliah.
    4. Pengakuan, penghargaan dan dukungan terhadap proses belajar orang dewasa perlu diciptakan dalam lingkungan belajar. Dalam hal ini, dosen dan mahasiswa harus memiliki semangat yang saling melengkapi dalam melakukan pencarian pengetahuan.
  1. Cooperatif Learning (CL) à adalah metode belajar berkelompok yang dirancang oleh dosen untuk memecahkan suatu rnasalah/kasus atau mengerjakan suatu tugas.
  • Kelompok ini terdiri atas beberapa orang mahasiswa, yang memiliki kemampuan akademik yang beragam.
  • Metode ini sangat terstruktur, karena pembentukan kelompok materi yang dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk akhir yang harus dihasilkan, semuanya ditentukan dan dikontrol oleh dosen.
  • Mahasiswa dalam hal ini hanya mengikuti prosedur diskusi yang dirancang oleh dosen.
  • Pada dasarnya CL seperti ini merupakan perpaduan antara Teacher centered dan student-centered learning. CL bermanfaat untuk membantu menumbuhkan dan mengasah:
    1. Kebiasaan belajar aktif pada diri mahasiswa.
    2. Rasa tanggungjawab individu dan kelompok mahasiswa.
    3. Kemampuan dan keterampilan bekerjasama antar mahasiswa.
    4. Keterampilan sosial mahasiswa.
  1. Colaboratif   Learning (CbL) adalah metode belajar yang menitikberatkan pada kerjasama antar mahasiswa yang didasarkan pada konsensus yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok.
    • Masalah/tugas/kasus memang berasal dari dosen dan bersifat open ended, tetapi pembentukan kelompok yang didasarkan pada minat, prosedur kerja kelompok, penentuan waktu dan tempat diskusi/kerja kelompok, sampai dengan bagaimana hasil diskusi/kerja kelompok ingin dinilai oleh dosen, semuanya ditentukan melalui konsensus bersama antar anggota kelompok.
  1. Contextual Instruction (CL) à adalah konsep belajar yang membantu dosen mengaitkan isi matakuliah dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan memotivasi mahasiswa untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat, pelaku kerja profesional atau manajerial, entrepreneur maupun investor.
    • Sebagai contoh, apabila kompetensi yang dituntut matakuliah adalah mahasiswa dapat menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses transaksi jual beli maka dalam pembelajarannya, selain konsep transaksi ini dibahas dalam kelas, juga diberikan contoh, dan mendiskusikannya.
    • Mahasiswa juga diberi tugas dan kesempatan untuk terjun langsung di pusat-pusat perdagangan untuk mengamati secara langsung proses transaksi jual beli tersebut, atau bahkan terlibat langsung sebagai salah satu pelakunya, pembeli, misalnya.
    • Pada saat itu, mahasiswa dapat melakukan pengamatan langsung, mengkajinya dengan berbagi teori yang ada, sampai ia dapat menganalisis fakto-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya proses transaksi jual beli.
    • Hasi/keterlibatan, pengamatan dan kajiannya ini selanjutnya dipresentasikan di dalam kelas untuk dibahas dan menampung saran dan masukan lain dari seluruh anggota kelas.
    • Pada intinya dengan CI, dosen dan mahasiswa memanfaatkan pengetahuan seeara bersama-sarna, untuk mencapai kompetensi yang dituntut oleh matakuliah, serta memberikan kesempatan pada semua orang yang terlibat dalam pembelajaran untuk belajar satu sama lain.
  2. Base Project Learning (PjBL) à adalah metode belajar yang sistematis, yang melibatkan mahasiswa dalam belajar pengetahuan dan keterampilan melalui proses pencarian/penggalian (inquiry) yang panjang dan terstruktur terhadap pertanyaan yang otentik clan kompleks serta tugas dan produk yang dirancang dengan sangat hati-hati.
  1. Problem-Based Learning/Inquiry (PBL/I) à adalah belajar dengan memanfaatkan masalah dan mahasiswa harus melakukan pencarian/penggalian informasi (inquiry) untuk dapat memecahkan masalah tersebut.

Pada umumnya, terdapat empat langkah yang perlu dilakukan mahasiswa dalam PBL/I, yaitu:

  1. Menerima masalah yang relevan dengan salah satu/beberapa kompetensi yang dituntut matakuliah, dari dosennya.
  2. Melakukan pencarian data dan informasi yang relevan untuk me mecahkan masalah.
  3. Menata data dan mengaitkan data dengan masalah.
  4. Menganalisis strategi pemecahan masalah

 Sebuah Pembelajaran Matakuliah Yang Bersifat Teoritis

  • Perkuliahan atau pembelajaran yang sering dilakukan adalah bentuk ceramah yang diselingi dengan tanya jawab.
  • Berbagai pernyataan menunjukkan ketidakpuasan terhadap bentuk pembelajaran ini.
  • Misalnya, sulit mengajak mahasiswa bertanya apalagi diskusi, perkuliahan yang membosankan dan berlangsung sepanjang semester, hingga sampai pada pernyataan betapa sulitnya mahasiswa diajak mau belajar.
  • Apabila pernyataan ini demikian faktanya, maka apakah tidak mungkin dosen dapat bertanya pada dirinya, apa yang harus atau sudah ia perbuat agar situasinya menjadi lebih baik ?
  • Yang belajar adalah mahasiswa demikian pula yang memutuskan akan menjadi apa mereka kelak.
  • Bagaimana mahasiswa tersebut mempelajari materi kuliah (cara belajar) juga sangat personal sifatnya.
  • Apakah kita pernah mencoba mengetahui atau memahami situasi mereka yang sebenarnya, atau mungkinkah kita bisa mengetahui hal-hal yang dapat mendorong mereka dan memang diharapkan oleh mereka agar belajar / kuliah lebih menyenangkan dan belajar bukanlah suatu kegiatan penumpukan beban ?
  • Sebuah pertanyaan pada saat kuliah pertama, dilontarkan sebuah pertanyaan yang harus dijawab secara tertulis oleh setiap mahasiswa (peserta) pada secarik kertas yang telah disediakan.
  • Pertanyaannya : ”Apa yang saudara benci dalam perkuliahan dan apa usulan dan harapan saudara terhadap perkuliahan itu ?”
  • Jawaban yang ditulis di bawah ini disarikan dari ± 60% peserta.
  • Yang tidak disenangi adalah :
    • Kuliah yang menonton dan membosankan
    • UTS / UAS yang berupa ujian tulis.
    • Penyajian yang tidak dihargai oleh teman sekelas.
    • Dosen yang merokok di kelas.
    • Tugas yang dikerjakan sungguh-sungguh, tapi nilai kurang memuaskan.
    • Kuliah yang mengharuskan menghafal.
    • Dosen killer.
    • Dosen yang kurang variatif dalam mengajar.
    • Tugas dikumpulkan tepat waktu tapi nilai tidak kunjung diperlihatkan
    • Kuliah ditiadakan tanpa ada pemberitahuan.
    • Tugas dikembalikan tanpa komentar, sehingga mahasiswa mengulangi kesalahan yang sama.
  • Usulan mahasiswa :
    • Kuliah dengan membahas studi kasus.
    • Pengembalian tugas dengan komentar tertulis.
    • Tugas kelompok tapi tiap anggota punya tanggung jawab sendiri.
    • Dosen juga menilai usaha mahasiswa, bukan hanya hasil akhir.
    • Sebeluam UAS, nilai-nilai diberitahukan.
    • Dosen mengajar dengan harapan mahasiswa dapat memahami matakuliahnya.
    • Pembuatan portofolio sebagai hasil belajar.
    • Dosen sebaiknya memperhatikan mahasiswa agar bisa lebih semangat.
    • Bila ada tugas besar tidak perlu ada ujian lagi.
    • Mengajar dalam bahasa Inggris agar lebih menantang.
    • Transparansi nilai.
    • Kuliah singkat, padat dan jelas.

Perencanaan Pembelajaran

  • Langkah-langkah berikut adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum masa perkuliahan dimulai, yaitu :
  1. Menyajikan rumusan kompetensi yang akan dicapai.
  2. Menyusun materi ajar berdasarkan sistem keilmuan atau skema proses keilmuan.
  3. Menyusun jadwal sesuai pokok bahasan dan sub pokok bahasan, termasuk rencana presentasi, pengumpulan tugas.
  4. Memilih sub pokok bahasan / topik yang dijadikan tugas.
  5. Membuat diskripsi tugas dan presentasi maupun ujian secara tajam agar kompetensi tercapai.
  6. Pembelajaran sistem penilaian belajar dan aturan main serta etika akademik yang diterapkan.
    • Rumusan Kompetensi
      • Kemampuan menyusun pemikiran dan berpendapat.
      • Kemampuan menunjukkan/mempresentasikan hasil belajar.
      • Kemampuan mencari contoh penerapan suatu prinsip/teori desain.
      • Kemampuan menyampaikan pemikiran secara visual dan oraL.
    • Susunan materi pembelajaran (contoh)
  • Jadwal Perkuliahan (contoh)
Minggu ke Kegiatan Pembelajaran Pokok Bahasan / Sub Pokok Bahasan
1. Penjelasan umum dan angket Materi satu semester dan aturan main.
2. Perkuliahan (Pokok bahasan 1) Sub pokok bahasan 1
3. Perkuliahan Sub pokok bahasan 2
4. Perkuliahan (Penjelasan ulang tugas   1) Sub pokok bahasan 3
5. Presentasi tugas oleh mahasiswa  
6. Presentasi tugas oleh mahasiswa  
7. Presentasi tugas oleh mahasiswa  
8. Presentasi tugas oleh mahasiswa  
9. Perkuliahan dan Diskusi Pokok bahasan   2
10. Perkuliahan dan Diskusi Pokok bahasan   3
11. Perkuliahan dan Diskusi Pokok bahasan   4
12. Presentasi tugas oleh mahasiswa Tugas 1
13. Presentasi tugas oleh mahasiswa Tugas 3
14. Perkuliahan Review sub pokok bahasan
15. Perkuliahan Review sub pokok bahasan
16. Review dan   evaluasi Menyeluruh

 

  • Diskripsi Tugas
    • Tugas satu:

Dikerjakan secara kelompok 3 orang yaitu dengan mencari obyek studi (misal : proyek pembangunan gedung) dengan periode waktu dibangun yang berbeda-beda, minimal 2 obyek periode lama dan 2 obyek periode baru. Dari obyek itu dicari aspek aspek yang merupakan penerapan suatu desain kerja (network planning).

Bobot nilai tugas ini 30 persen.

  • Tugas dua :

Dikerjakan oleh peserta secara individu, yaitu mencari suatu prinsip atau teori tentang perencanaan jaringan kerja. Kemudian mencari 2 contoh kasus objek proyek bangunan untuk dianalisis berdasarkan teori tersebut.

Bobot tugas ini 30 persen.

  • Presentasi Tugas

Mengunakan transparan (OHT) disajikan di depan kelas oleh kelompok atau individu dan langsung didiskusikan, dikoreksi, diberi saran perbaikan dan diberi catatan untuk langsung diperbaiki serta dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan.

  • Diskripsi Ujian

Ujian (UAS) terdiri dari 3 soal. Satu soal dibuat oleb mahasiswa sendiri dengan topik yang dipilih atau pokok bahasan tertentu yang ingin dia pelajari dengan baik dan ditulis. (jawabannya) dalam bentuk paper minimal 3 halaman dan maksimal 5 halaman, termasuk contohnya. Soal kedua dan ketiga dibuat sendiri oleh mahasiswa dirumah dan dikerjakan di kelas saat ujian dengan sistim close book. Hanya boleh membawa naskah soal /studi kasus yang akan dibahas.

Pokok bahasan soal kedua dan ketiga ini harus berbeda dengan soal nomor satu.

  • Tingkat kesulitan dan standar nilai ujian dirumuskan sbb.:
Bila pertanyaan berbunyi : Nilai
·        Sebutkan / tuliskan / berikan definisi tentang………………………… D
·        Terangkan / jelaskan / uraikan ……………………………………………… C
·        Jelaskan dan beri contoh penerapan…………………………………….. B
·        Jelaskan dan bandingkan 2 prinsip dengan memberi contoh … A
·        (bila menyebut teorinya atau menuliskan kutipan referensinya.. A+

 Bobot nilai ujian 40 persen.

Dalam pelaksanaan ujian ini, sebelum pekerjaan ujian dikumpulkan, mahasiswa diminta menuliskan sendiri nilai yang sesuai dengan usahanya (cara ini dilakukan untuk mernbangun kepercajaan diri dan kejujuran akademik pada mahasiswa ).

  • Evaluasi

Dalam pelaksanaan bentuk pernbelajaran ini terdapat kelemahan dan kelebihan/ keuntungannya :

  1. Mahasiswa dapat memilih sendiri obyek yang paling rnenarik hatinya (dalam tugas).
  2. Mahasiswa dapat menuliskan/mengutarakan pernikirannya menurut tingkat kedalamannya dan dengan bahasanya sendiri. Bahkan sering hasil telaahnya melampaui batas materi yang dibahas oleh mata kuliah ini.
  3. Mahasiswa dapat melatih menyampaikan pikirannya secara visual maupun oral (presentasi).
  4. Dosen dapat langsung mengetahui seberapa jauh / seberapa benar mahasiswa mempelajari suatu materi ajar. Bila komentar dan koreksi langsung diberikan mahasiswa maka sebelum dikumpulkan mahasiswa tersebut dapat memperbaikinya (penilaian proses).
  5. Tidak ada soal ujian yang tidak terjawab karena soal dibuat oleh mereka sendiri.

Kendala / kekurangannya :

  1. Dosen memerlukan lebih banyak waktu untuk mengoreksi berbagai macam pemikiran dan memerlukan ketajaman dalam menilai.
  2. Mahasiswa sering sibuk terhadap tugasnya sendiri sehingga kurang perhatian terhadap materi yang disajikan atau sedang dibahas oleh rekan lainnya.
  3. Penilaian tidak bisa menggunakan standar baku.

Catatan:

Dengan melihat hasil pelaksanaan dan hasil kerja mahasiswa, maka pola pembelajaran ini masih memerlukan perbaikan pada beberapa hal:

  1. Perlunya batas-batas tugas.
  2. Perlunya petunjuk tambahan tentang cara penulisan makalah/ tugas.
  3. Perlunya petunjuk strategi belajar bagi mahasiswa.
  4. Perlunya ketekunan dan konsistensi semangat dari dosen.

Disarikan dari buku tanya jawab seputar unit pengembangan materi dan proses pembelajaran di perguruan tinggi. Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan. DIRJEN DIKTI DIKNAS 2005

Oleh : Prof. Dr.Iskandar,SE., M.Si. (FE Unikarta Tenggarong)

Comments are closed.